Emosi Karena Anak Mintak Makan Enak, Ibu Tebas Anak Dengan Parang !!!

Emosi Karena Anak Mintak Makan Enak, Ibu Tebas Anak Dengan Parang !!!

TRIBUNKOTA


MUARAENIM – Lisma (53) warga Desa Tanjung Muning. Diduga emosi,  Ia tega membacok anak kandungnya sendiri Eman Wijaya (12) hingga tewas, di rumahnya Dusun I, Desa Tanjung Muning, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muaraenim, Sabtu (30/07) sekitar pukul 17.00.
Dari informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, kejadian yang cukup menghebohkan tersebut berawal ketika korban yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara tersebut pulang dari bermain. Karena lapar korban ingin makan. Kemudian korban mengambil nasi didapur, namun ketika mencari lauk ternyata lauk hanya tahu dan tumis kangkung. Lalu ia memanggil ibunya (pelaku) menanyakan lauk makan lainnya karena merasa bosan makan dengan lauk pauk tersebut setiap hari.
Tetapi dijawab ibunya bahwa tidak ada lauk lain karena ia sanggup hanya seperti itu. Mendengar hal tersebut, diduga korban memaksa dan merengek-rengek sambil menghentak-hentakkan kakinya kepada ibunya untuk mencarikan lauk makannya.
Mendengar korban terus memaksa, diduga membuat pelaku emosi dan gelap mata, dan secara spontan mengambil sebilah parang di dapur dan tanpa berpikir panjang langsung membacokkannya kearah kepala bagian belakang satu kali, leher dan bahu korban sebanyak empat kali sehingga membuat koban langsung tersungkur dan bersimbah darah.
Melihat korban tersungkur dan meregang nyawa, warga yang mendengar suara ribut-ribut langsung mendatangi rumah korban dan melihat korban sudah terkapar bersimbah darah. Kemudian warga melapor ke Kades setempat dan diteruskan ke Polsek Gunung Megang. Tidaklama kemudian, petugas mendatangi dan melakukan olah TKP serta mengamankan pelaku bersama barang bukti parang.
Sementara itu Kades Tanjung Muning Venus, membenarkan adanya kejadian tersebut. Untuk kronologisnya ia belum tahu pasti, sebab polisi sedang melakukan pemeriksaan.
Ketika dikonfirmasi ke Kapolres Muaraenim AKBP Nuryanto melalui Kapolsek Gunung Megang AKP Indra, hasil penyelidikan dan olah TKP dilapangan, pelakunya adalah ibu kandungnya sendiri. Untuk motifnya karena emosi ketika korban memaksa minta lauk makan sedangkan lauk memang tidak ada.
Saat ini, pelaku bersama barang bukti parang telah diamankan guna pemeriksaan lebih lanjut.Menurut Lisma, bahwa pada saat kejadian kebetulan kondisi rumah sedang sepi, karena suaminya Ahmad Satiri (63) sedang mandi di Sungai Lematang yang berjarak sekitar 150 meter dari rumahnya.
Kemudian anaknya pulang ke rumah minta makan, tetapi karena lauknya hanya tahu dan tumis kangkung membuat seleranya berkurang. Karena tidak ada lauk lain, anaknya tetap memaksa sambil marah menghentak-hentakkan kakinya.
Diakui, Lisma, lauknya tidak berganti-ganti. Kalu pagi sayur bening atau sejenisnya dan sore lauknya tumis kangkung dan tahu, sebab memang kemampuan penghasilan suaminya yang hanya penyadap karet sedikit. Jadi ia terpaksa harus mengirit biar cukup makan sehari-hari.
Dikatakan Lisma, bahwa anaknya ada empat orang, anak pertama dan kedua perempuan semuanya sudah berkeluarga. Anak ketiga laki-laki masih bujangan dan telah bekerja di Palembang. Dan korban adalah anak keempat atau bungsu yang berjarak sekitar 10 tahun dengan kakaknya ketiga. Akhir-akhir ini, kondisi kesehatannya memang sedang terganggu seperti mengidap penyakit kencing manis, maag dan darah tinggi sehingga badannya mudah capek.
Dan pada saat kejadian, anaknya berbicara kalau makan sayur seperti ini terus lebih baik saya mati.Mendengar omongan tersebut, iapun emosi dan langsung menjawab kalau mau mati kesinilah sambil mengambil parang yang terselip dinding dapur.”Kalu makan sayur mak ini terus lemaklah mati. Aku jawab kesini kalu nak mati aku kapak,” ujar Lisma menirukannya.
Ketika anaknya sedang makan, kata Lisma, iapun langsung mengayunkan parangnya dari samping dan mengenai kepala bagian belakang dan leher. Kemudian anaknya sempat berbicara kepadanya menanyakan mengapa ia dibacok untuk menyadarkannya. Namun ia sudah tidak sadar lagi dan terus membacok anaknya hingga jatuh roboh ke lantai bersimbah darah. Setelah anaknya terjatuh, iapun duduk didekat anaknya dengan posisi membelakanginya. Kemudian tidak lama kemudian warga berdatangan naik ke atas. Dan iapun diamankan warga ke kantor Polisi.
“Akuni anak kamu, ngapo masih kamu kapak tulah,” ujar Lisma menirukan ucapan anaknya sebelum menjelang ajal. Sebelumnya, sambung Lisma, ia sempat dipusingkan masalah biaya rencana anaknya yang akan melanjutkan ke SMP Tanjung Terang. Meski sekolah gratis, namun untuk biaya seragam, sepatu, buku dan lain-lain tentu memerlukan dana yang cukup besar, sedangkan untuk makan saja kurang. Dan ketika ditanya apakah benar ia akhir-akhir ini sering menyendiri, ternyata dibenarkan pelaku. Hal tersebut karena ia malas ngobrol yang tidak perlu karena masih terpikir untuk masalah biaya anaknya sekolah.
“Dio tu memang galak nian sekolah tapi akuni pening mikirke biayanyo. Aku sekarang nyesal nian dan baru sadar setelah melihat anak aku lah tekapar bersimbah darah,” ujarnya.
Sementara itu menurut beberapa warga Tanjung Muning yang tidak mau disebutkan namanya, bahwa akhir-akhir ini pelaku memang terlihat menyendiri dan memilih tertutup dengan warga. Sedangkan korban, dikenal anak yang periang dan menjadi anak kesayangan di sekolahnya. Terbukti kemarin seluruh guru dan teman-temannya satu sekolah melayat kerumahnya mengucapkan belasungkawa.





photo AB230x90gif_zps839436ce.gif photo AB230x90gif_zps839436ce.gif Ibcqq photo AB230x90gif_zps839436ce.gif photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About TRIBUN KOTA

    Blogger Comment
    Facebook Comment