Selamat dari Titanic dan Jadi Sumber Penting, Bukannya Dihargai, Hosono Malah Dianggap Pengecut

Selamat dari Titanic dan Jadi Sumber Penting, Bukannya Dihargai, Hosono Malah Dianggap Pengecut


Bagi generasi 90 an, tentunya tidak asing dengan nama Titanic.Ya, Titanic adalah sebuah kapal yang tenggelam pada dekade 40 an, lalu kemudian difilmkan pada tahun 1997.

Tokoh yang cukup terkenal dalam film Titanic adalah Jack, dan Rose. Keduanya merupakan sepasang kekasih yang berjuang mati-matian saat kapal tersebut tenggelam.

Namun, ada tokoh penting lainnya yang juga layak disebut saat tenggelamnya kapal tersebut.

Satu di antara sumber, sekaligus tokoh penting dalam tragedi Titanic adalah Masabumi Hosono (15 Oktober 1870 – 14 Maret 1939).

Dia merupakan salah satu penumpang yang selamat dan menjadi sumber kisah dramatis Titanic yang difilmkan, 1997, yang meraih sukses dan dijadikan sebagai film romantis, sepanjang masa.

Kisah di film laris tersebut antara lain ditulis berdasarkan kisah nyata sejumlah korban yang selamat, termasuk Hosono.

Masalahnya, pria yang saat menjadi penumpang di Titanic berumur 41 tahun itu, dijuluki sebagai pengecut karena menyelamatkan diri di saat banyak penumpang tewas atau meregang nyawa di kapal yang menabrak puncak gunung es itu.

Penyelamatan diri yang dilakukan oleh Hosono itu malah menjadi tragedi di sisa umurnya.

Dia menjadi bulan-bulanan, termasuk dari sejumlah media massa di Jepang karena salah satu budaya di negara itu adalah terkait dengan sifat ksatria dan tidak takut mati, tapi apa alasan di balik penyelamatan diri yang dilakukan Hosono?

Tentu saja selain alasan egois untuk bisa bertahan hidup di saat yang lain terancam mati atau di ujung kematian mereka, pria itu menyatakan, sebenarnya dia sudah pasrah sampai akhirnya, dia melihat sebuah kesempatan untuk menyelamatkan diri setelah semua kapal penyelamat dinyatakan penuh karena yang diutamakan hanya wanita dan anak-anak.

Pria, yang bekerja di London sebagai pekerja di bidang transportasi dari Jepang itu, menyatakan, dia ingin selamat seperti halnya semua penumpang lainnya dengan berbagai cara.

Kesempatan hidup hanya kecil karena kapal itu semakin cepat tenggelam di tengah laut yang sangat dingin dengan suhu menusuk karena kapal mewah itu menabrak gunung es.

Soalnya, persediaan kapal penyelamat di RMS Titanic tidak sebanding dengan jumlah penumpang karena hanya ada belasan sekoci.

Sampai kemudian, Hosono mendapati kesempatannya untuk selamat ada di celah yang sangat sempit, ketika sebuah sekoci nomor 10 dinyatakan masih bisa memuat dua warga lagi.

Hosono, yang merupakan warga Jepang sebenarnya merupakan penumpang kelas dua di Titanic, tapi dia disangka sebagai penumpang kelas tiga, yang didominasi oleh masyarakat menengah ke bawah.

Hosono menyatakan, dia demikian cemas karena hidupnya tinggal beberapa saat lagi.

"Aku khawatir tidak bisa bertemu lagi dengan istri dan anak-anakku yang tercinta," katanya.

Pernyataan itu juga menjadi alasan mengapa satu-satunya pria Jepang itu akhirnya memilih untuk menyelamatkan diri dengan segala cara.

Ketika itu, kata Hosono, ada pria yang berupaya menerobos dan masuk ke sekoci, tapi kemudian diturunkan dan dicemooh.

Tanpa pikir panjang, Hosono menyamar sebagai wanita karena ketika itu gelap gulita, sebenarnya sulit mengenali siapa wanita atau pria di kapal yang semakin cepat tenggelam itu.

Akhirnya Hosono berhasil mendapatkan tempat dan kemudian dia memang berhasil diselamatkan bersama dengan sejumlah penumpang lainnya.

‎Baru tahun 1990, cucunya, Haruomi Hosono‎ memberikan kisah di balik kakeknya yang menjadi bulan-bulanan tersebut di antaranya dengan mengumumkan surat yang ditulis Hosono untuk istrinya.

Keluarga berharap, Hosono direhabilitasi, tapi setidaknya, sumber penting dalam kisah Titanic itu memang menghidupkan film yang dibikin oleh James Cameron menjadi lebih memukau dan memunculkan kisah-kisah di balik tenggelamnya Titanic.‎ photo AB230x90gif_zps839436ce.gif photo AB230x90gif_zps839436ce.gif Ibcqq photo AB230x90gif_zps839436ce.gif photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About Lisa Wilona

    Blogger Comment
    Facebook Comment